Friday, March 28, 2014

Proud Moms


Ma, aku hari ini ketemu Ibu cantik bermukena biru, di tempat fitness-ku. Lalu dia menyapaku dahulu, menanyakan aku kuliah dimana. Lalu dia bercerita bahwa anaknya juga lulusan Parahyangan, dan sekarang sudah jadi diplomat. Aku terpekik senang. Sejenak lupa pada masa ujianku dan tertegun melihat binar di matanya ketika berbicara tentang anaknya yang begini dan begitu. Lalu dia mendoakan agar aku pun segera lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang aku mau. Aku mengangguk mantap dan berkata, “amin!’

Ma, ketika Paskah yang lalu aku bertemu seorang sosialita di gereja. Wanginya sermebak, pasti dari parfum yang harganya beberapa juta. Rambutnya disemir dan sekaligus di-curly, hpnya keluaran terbaru. Lalu dia menyapaku. Dan bercerita juga bahwa anaknya berkuliah di jurusan dan universitas yang sama denganku. Kata ibu yang ramah ini, anaknya sekarang sedang berlibur di Eropa, sebagai hadiah dari kerja kerasnya di salah satu bank internasional. Dan bahwa dia amat bangga atas segala prestasi anaknya semenjak sekolah. Aku mendengarkan dengan seksama, betapa menyenangkannya. Eropa, dia pun mimpi terbesarku. Dan ratusan juta orang yang lain.

Ma, aku harap tiga atau empat tahun lagi mama akan mengalami hal yang sama. Mama mau cerita apa? Aku harap semoga mama bisa cerita bahwa mimpiku untuk melanjutkan kuliah di Inggris sudah tercapai. Dan bahwa aku bisa kerja dan menghidupi diriku sendiri. Dan bahwa aku masih seperti gadis kecil yang mama antarkan ke gerbang sekolah bertahun-tahun lalu. Yang berubah hanya tubuh dan wajahku. Kesemuanya, semangat, mimpi, cita-cita, cinta, dan karakter, masih terukir dengan baik. Aku harap mama bisa cerita bahwa aku telah berkeliling ke negara-negara. Membuka wawasan kepada hal-hal yang baru, mendapatkan pengalaman yang terkadang sulit untuk didapat orang lain. Aku harap mama selalu berbaik hati menyapa gadis-gadis kecil yang seumuran denganku, yang masih mencari jati diri dan menentukan apa yang ingin ia lakukan dalam hidup. Aku harap mama mendorong mereka untuk menjadi sukses dan tidak tergantung pada pasangan hidup mereka. Biar binar di mata mama memotivasi mereka, seperti yang telah terjadi padaku.

Ma, aku harap mama akan menceritakan tentangku dengan rasa bangga. :’)

19.03.14
 [F]



Friday, March 14, 2014

Sore Ini


Hari ini aku menjadi kecil lagi.
Menjadi sederhana.
Melepas sepatu dan merendam kakiku dalam genangan air hujan.
Rasanya menyenangkan sekali.
Aku tidak pernah lupa.
Ketika SMA aku selalu suka melakukan ini.
Bermain di bawah hujan.
Walau ekor kudaku tepis kena tempias.
Dan sesekali aku harus berjinjit menghindari batu-batu tajam.
Dan menahan tawa ketika orang-orang yang melihat geleng-geleng kepala.
 “Ngapain atuh neng ujan-ujan…” begitu katanya.
Ibu hanya belum tahu seberapa menyenangkannya.
Berjalan menembus amuk awan.
Dan untuk sesaat merasa…
Bebas!


14.03.14
[F]


Sunday, February 23, 2014

Puisi dan Kota


Kata seorang filsuf puisi adalah lagu yang melantun
Ketika lidah kehabisan kata, dan otak kehabisan ide
Kata seorang filsuf inderamu menjadi jauh lebih peka
Pada susunan paragraf, kata, dan rima


Tergugu, terdiam
Di dalamnya terdengar jarum jam berdetik
Hai, kamu sudah semakin dewasa
Jari lentikmu menari
Kacamatamu sedikit berdebu
Sanak membaca buku
Lekuk wajahmu selalu serius
Kadang jemarimu menyisir lembut
Helai-helai rambut wangi lavender
Sweatermu tampak usang
Namun aku tahu itu alamat terlalu sering kau pakai
Cucilah, aku mendengus.
Walau dengan senang hati aku akan
Bergelung di dalamnya.
Kamarmu nyaman.
Selimut percamu menggantung di tepi ranjang.
Pasti alamat tidur siang yang kebablasan.

Hidupmu ramai, tapi di saat yang sama terasa sepi.

Hai, bagaimana kabar?
Kata orang Sunda kumaha kabarna?

Tersenyum. Kadar senyummu keterlaluan.
Sungguh manis.
Ah, sungguh kota ini punya cerita.

My Kind of Serendipity




Serendipity adalah ketika makan soto jam sebelas malam dengan teman-teman tersayang. Kemudian bernyanyi bersama dengan pengamen jalanan bertindik tiga. Berlarian di jalan tanpa peduli kendaraan.

Serendipity adalah ketika tersasar di kegelapan. Tapi tak tergesa pulang.

Serendipity adalah ketika kehujanan. Tapi tak influenza, malahan berlama-lama melangkahkan kaki. Supaya rintik hujannya terasa lebih lebih lagi. Ingin tersenyum lebar karena tiba-tiba kebahagiaan terasa begitu mudah, tapi aku takut dianggap gila.

Serendipity adalah menyesap minuman kesukaan. Dan ngobrol berjam-jam. Mengalir saja tanpa batas dan dinding.

Serendipity adalah mendapatkan pelajaran hidup dari para senior. Para dosen, tukang angkot, hingga penjual warung di sebelah kos. Kesempatan untuk belajar.

Serendipity adalah bertemu dengan orang-orang hebat. Serendipity adalah bertemu dengan orang yang tak disangka-sangka, di saat-saat yang tak terduga pula.

Serendipity adalah menyusuri trotoar dengan ransel biru dan permen karet. Sneakers coklat dan rambut dikuncir. Tak ada arah, aku ikut kemana kaki menuju.

Serendipity adalah pemandangan di kaca jendela. Kos. Dan Kereta. Dua hal kesukaan. Lamunan akan terbang dan hinggap ke awang-awang.

Serendipity adalah mendengar kata-kata sederhana dari orang-orang penuh makna.

Serendipity adalah menemukan, tanpa harus mencari.

Juga cinta.

Saturday, February 8, 2014

A Letter


Hey little girl, I know you’re being vulnerable lately. It’s been hard and complicated, and you feel like running away as far as your feet can do. You feel like there’s no point of faking a smile nor pretending to be happy when you’re actually not. You shut your self, push people away, be all alone is exactly what you think you need. Hey, you’ve been through this. And if you could nail it once, I’m sure you will do, too, this time.

I’m not gonna tell you that I know your feeling, because no one ever ease the pain by saying that. But remember this, you are worthwhile. You’re the one person who’s constantly saying that no one could ever define you. No one MAY ever define you. You find your own definition and live your life just by the way you want it. And I got your back on that. If there’s one advice, I need you to tell the world that you’re okay. That you fall seven times, but you can get up eight.
 That you are stronger than anyhow severe your wound is. Tell the world that you’re gonna rise back.
 Now you might be in the bottom, but after this there’s no other way to go than up. I can’t recommend you a book, or a song, or a video, to abolish your memories completely. They will always be there. They will always remind you of something joyful, funny, terrible, and extraordinary in your life. But don’t look back too often. It hurts you more. To wonder with all the “What if”s. The only thing you need to take from your past is the lessons. Lessons to shape you into a better person. To learn from experience and become wiser. To evaluate yourself and fix the broken parts.

Hey, little girl, you can cry as much as you want. If it is what it takes to heal your scar. But for me, moving on is the best way. Carry on stronger. Forget about love and all the pain it caused you all this time. Maybe this time you need to be on your own, on your road, all alone. Walk it like you mean it. I’ve seen your dreams, I’ve seen your biggest fear. I’ve seen that you’re not one of those pathetic girls whose world stops spinning just because of some guy. You’ll be fine by yourself. You can focus on your study, and struggle even more fiercely for your dreams. Hey, I know you can. Do you think you’re gonna let a guy trespass your path and ruin your lifetime-plan? Because I don’t.

Hey little girl, life moves pretty fast. Life goes on without caring whether you’re broken or you’re on fire. Time won’t wait you, you gotta catch up. So don’t take too long to mourn, it’s pointless. You see, these past two decades have taught me that the time will always be right. Never too early and never too late. Be patient, some things take longer time than the other. I will always pray for you. For your dreams and for your happiness. And I hope God will send you His best angel to guide you for the rest of your life. If it’s meant to be, it will always find its way. Believe me. :’)

08.02.14
 [F] Savo.

Friday, February 7, 2014

Couple Year Minus Twenty Three


Tuhan aku capek. Aku capek terlibat sama yang namanya cinta lagi. Sungguh aku capek. Aku tak suka sesuatu yang berakhir. Manusia mana yang suka? Apalagi mengakhiri sesuatu yang demikian menyenangkan seperti cinta. Tuhan, aku memang perempuan biasa. Sedikit bawel, sedikit dekil, sedikit terlalu ekspresif. Dan kamu memberikan aku laki-laki yang selalu terlalu baik. Yang selalu menerimaku apa adanya, yang tak pernah membandingkan aku dengan perempuan lain.

Tuhan, aku menulis bukan untuk mengeluh. Bukan untuk bertanya kenapa harus begini jadinya. Aku menulis karena aku capek dan aku tidak mau membuat teman-temanku bosan mendengar aku bercerita. Jadi aku menumpahkan semuanya pada-Mu. Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang akan menungguku bertahun-tahun yang akan datang. Dan akan seperti apakah diriku nanti. Tapi aku bertekad untuk tak dekat-dekat dan tak main-main dengan rasa. Aku takut kecewa lagi. Takut mengakhiri dan sakit hati.

Tuhan, aku capek. Aku capek bicara. Kadang aku hanya ingin tinggal di kamar seharian dan baca buku. Aku ingin lari, lari dengan buku yang tak butuh mendengarku berbicara. Kadang aku hanya ingin duduk di daun jendela dan melamun melihat sesuatu yang tak perlu dilihat. Melihat rumah, awan, dan merasakan angin. Aku capek harus menjelaskan apapun beserta tetek bengek alasannya. Mungkin hujan akan membantuku melepaskan sesuatu yang bukan milikku.
 Aku capek makan. Aku tak berselera menyantap apapun. Satu-satunya alasan aku mau makan adalah karena aku tidak mau sakit. Aku sudah cukup sengsara. Aku tak perlu lagi jatuh sakit dan tak bisa apa-apa.
 Aku capek pergi. Aku suka berjalan, tapi tidak hari ini. Aku tak punya niat untuk melihat film sebagus apapun, atau pergi ke tempat seindah apapun. Aku capek bergulat dengan pikiranku sendiri. Mungkin aku lebih baik tidur seharian dan hanya bangun ketika aku harus kuliah.

Tuhan aku capek. Entah kenapa. Aku hanya ingin berjalan, walau lambat, tapi ke arah yang benar. Aku ingin duduk di gereja-Mu dan mendengar kesunyian yang berkata. Aku hanya ingin fokus pada kewajibanku, pada mimpi-mimpi yang tak pernah pergi. Seseorang pernah berkata, katanya tidak baik jika kita terlalu sayang pada manusia. Karena manusia bisa datang dan pergi sesukanya.
 Tapi Kamu tidak. Maka Tuhan, sini mendekatlah padaku.
 Kalau aku seorang yang tak beriman, aku tak tahu kini aku harus berpegangan pada siapa.
 Untunglah aku punya Kamu. Tuhan, berkati aku :”)

06.02.14
 [F]

Tuesday, January 14, 2014


Melayanglah tanpa peduli salah dan benar.
Terbanglah, kepakkan sayap.
Ayah bilang jangan terikat pada bumi.
Lebih-lebih lagi pada manusia yang menghuninya.

Mengapunglah.
Larutan garam akan menyakiti bibir dan kulitmu.
Tapi darinya kau akan dapat kekuatan baru.
Kata ayah jangan berhenti bercakap-cakap dengan alam.
Lebih baik berhenti basa-basi dengan manusia, dibanding harus menjauh dari sungai dan rerumputan.
Belajarlah bahwa ketika kamu mencintai alam, dia akan mencintaimu lebih lebih lagi.
Alam bukan manusia, ayah tersenyum kecut.

Mendayunglah.
Jadilah bebas.
Kata ayah kita bisa hidup selamanya.
Surga dan neraka hanya terkaan manusia intelek.
Kamu boleh percaya atau tidak.
Tapi jiwamu adalah milikmu sampai akhir masa.

Berlarilah.
Biar telapak-telapakmu mencium kerikil dan bebatuan.
Ayah berpesan agar kita tak perlu takut sakit.
Ia bilang kita selalu punya pilihan, hanya terkadang kita lebih memilih hidup penuh penderitaan.
Dibanding lari dan mencari kebahagiaan.

Tidurlah di bawah bintang.
Ayah bilang itu adalah obat untuk setiap permasalahan.
Kamu akan merasa kecil. Lemah. Tidak berdaya.
Kamu akan belajar melepaskan. Merelakan.

Ayah bilang kita adalah harta karun paling berharga. Yang pernah singgah ke hidupnya.
Ayah bilang kita patut merayakan hidup. Mencoba segala sesuatu.

Ayah bilang kita tak perlu takut mati.

[F]