Wednesday, May 28, 2014

KSMPMI



Terima kasih. Kita adalah keluarga tanpa perikatan darah. Tanpa kontrak dan tanpa janji apapun. Kita satu, karena kita mau.
Selesai lagi setahun yang penuh cerita dan pelajaran berharga. Sisa satu, yang terakhir. Aku masih ingat saat-saat ketika pertama kali aku mengisi namaku dan mengikuti wawancara pertama untuk masuk dalam KSMPMI. Aku ingat aku membicarakan tentang Rohingya dan tentang Suriah. Konflik berkepanjangan yang hingga kini pun masih ada. Aku ingat tatapan kagumku pada orang-orang yang ada di dalamnya. Para koordinator dan para kakak kelas. Betapa inginnya, melanjutkan jejak mereka.

Time flies, indeed. Dua tahun ini betul-betul dua tahun yang penuh dengan kesan. Dengan pelajaran baru dari orang-orang hebat. Aku banyak belajar dan menerima pengalaman dari orang-orang ini, yang begitu rendah hati dan kaya wawasan, namun mau berbagi ilmu dan berkembang bersama-sama kami. Selangkah demi selangkah kami tapaki bersama-sama. Hari Kamis untuk Socratime dan hari Rabu untuk diskusi internal. Hampir selalu di tempat yang sama. Pertukaran pikiran yang diselingi percakapan penuh canda. Selalu hangat, selalu menyenangkan. Setiap pertemuan rasanya seperti sedang berkumpul bersama saudara, dan bukan terasa seperti rapat.

Aku tidak lupa bagaimana KSMPMI sedikit banyak merubah cara pandangku terhadap berbagai hal. Something I don’t earn from classroom. Aku merasa seperti mahasiswa sungguhan, yang berdiskusi berjam-jam tentang hal yang sering dianggap remeh temeh oleh sebagian orang. Aku bisa memahami hal-hal yang dulunya aku hindari, topik tentang Timur Tengah misalnya. Hahaha. Being in this organization encourages me to always improving myself. Bahwa di atas langit mash ada langit, dan kita tak boleh sombong. Sama sekali tidak. Akan selalu ada seseorang yang datang dan membuktikan bahwa kita pun bisa salah, kita pun bisa kalah. It also teaches me to speak up my stance. Bahwa kita harus berani bicara. Harus berani punya prinsip dan tak sekedar dibawa kata kemana-mana. Bahwa kita berani stand up for something. Tapi di saat yang sama, kita juga tidak takut untuk dikritik dan ditantang dari perspektif yang berbeda.

Sungguh, aku sudah mendapatkan banyak sekali hal dari KSMPMI ini. Jauh lebih banyak dari apa yang aku dapatkan di ruang kelas. Dua tahun aku telah mendapat, kini setahun terakhir mungkin adalah saat yang tepat untuk memberi. Memberi kontribusi terakhir untuk KSMPMI, membalas dengan penuh apa yang telah diberikan. Saatnya untuk mengembalikan.

Memang tak ada awal yang tak ada akhir. Tak ada mulai yang tak ada selesai. Kini saatnya melanjutkan karya dari kakak-kakak, menjaga titipan yang mereka minta. Tamen non cesta. Perjuangan belum berakhir! :”)






Sunday, April 27, 2014

What People Should Not Be Anti Of


Manusia boleh anti pada apa saja. Itu hak mereka. Suka tidak suka harus diterima. Dan kita tidak bisa memaksa apakah mereka harus begini begitu. Memang manusia sebaiknya tidak mencampuri urusan manusia lain. Panjang masalahnya. Dan tidak ada yang akan benar-benar kalah atau menang. Karena dari awal itu seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Tapi menurutku, manusia tidak boleh anti terhadap 3 hal. Anti-perubahan. Anti-kritik. Anti-kritis.
Manusia tidak boleh anti pada perubahan. Perubahan bisa berarti banyak hal. Ideologi baru, kenalan baru, tempat baru, situasi baru, bahasa baru, dan segala yang membuat mereka mungkin terdesak dan ingin kembali ke zona yang nyaman. Bear in your mind, changes are inevitable. Tidak ada hal yang abadi di dunia ini kecuali ketidakpastian itu sendiri. Dan ketidakpastian berkarib dengan perubahan. Bahwa tidak ada satu hal pun yang benar-benar sama dari awal hingga akhir. Bahkan manusia. Dan karena itulah maka manusia harus bisa menerima perubahan. Kapanpun dan dimanapun. Manusia yang siap menerima perubahan - atau, yang siap membuat perubahan - adalah manusia-manusia yang akan maju puluhan langkah lebih jauh dari manusia yang memutuskan untuk menutup diri dan tinggal selamanya dalam kepompong besar yang nyaman namun mematikan.
Aku percaya bahwa setiap manusia punya kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Bahwa pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk selalu mencari dan membuat hal-hal yang baru. Tapi kemampuan ini butuh latihan. Dan begitulah, semakin sering ia membuka pikiran pada ide-ide dan hal-hal baru, akan semakin tajam kemampuannya untuk menyesuaikan diri. Sebaliknya semakin koservatif dia pada pemikiran-pemikiran asing, maka seumur hidupnya tidak akan pernah ia menciptakan sesuatu yang fenomenal. Selamanya ia hanya gidup menjadi pengikut dan bertanya-tanya dalam hati mengapa dunia perlu berubah sedahsyat ini.

Manusia juga tidak boleh anti-kritik. Because the more we know about everything, the more we feel like we don’t know anything. Orang-orang hebat itu tidak pernah merasa bahwa diri mereka hebat. Mereka hanya sangat-sangat menghargai proses belajar, mereka sangat mengerti bahwa ada manusia-manusia yang lebih hebat di luar sana. Feedbacks are important to develop oneself. Karena orang-orang yang anti-kritik tidak akan maju terlalu banyak. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mengajarkan sesuatu pada orang yang merasa tahu segalanya? Bagaimana bisa mengucapkan sesuatu pada orang yang hanya peduli pada pendapatnya sendiri? Ada orang-orang yang anti dikoreksi, defensif, dan selalu membela diri sendiri. Orang-orang yang simply can’t say “I don’t know that.” Aku suka feedback. Any kind of it, even the most bitter one. It may not be uncomfortable to hear, but it is a relief to find out how people perceive us, or our works. Kacamata diri sendiri dengan kacamata orang lain bisa demikian berbeda. I’m not saying that we have to please everybody, but simply listening to them can gives us a whole new perspective. Maka manusia harus tahan kritik. Itu tanda bahwa ia mau berubah menjadi lebih baik.

Terakhir, anti-kritis. Susah sekali mengajak orang untuk berpikir kritis, untuk mempertanyakan segala sesuatu dan tidak menerima mentah-mentah apa yang ia baca, ia dengar, dan ia lihat. Justru kritis adalah hal yang sulit untuk ditumbuhkan, terlebih jika ia terbiasa didoktrin dengan ajaran-ajaran feodal nan dogmatis. Kritis berarti berani mempertanyakan segalanya, tidak asal angguk-angguk kepala dan menurut. Kritis berarti berani speak-up, mengutarakan pendapat diri sendiri. Kritis berarti menerima bahwa tidak ada satu hal pun yang luput dari cacat dan kekurangan. Kritis berarti berani mencari tahu dengan cara apa pun, mengeluarkan usaha ekstra untuk mendapatkan jawaban dari hal-hal yang jarang orang perdebatkan. Kritis berarti lepas dari segala bentuk perbudakan pikir dan ajaran-ajaran yang tak masuk akal. Manusia yang anti-kritis adalah target yang paling mudah untuk dipengaruhi. Yang mudah terombang-ambing karena tidak berani menantang otaknya untuk bertanya. Dan jumlah manusia seperti itu, banyak sekali.

Manusia boleh anti pada apa saja. Pada agama, makanan, ajaran, orang, suku, negara, dan sebagainya. Boleh, itu haknya. Who are we to judge? Tapi buatku, manusia tidak boleh anti-perubahan, anti-kritik, dan anti-kritis. Itu saja.

26.04.14
 [F]

Thursday, April 24, 2014

Less is More


Kebahagiaan itu bisa sesederhana itu, ternyata. Hidup mungkin telah merubahku di beberapa bagian. Tapi ia pun selalu mengingatkan aku akan hal-hal terbaik. Seringkali aku tersesat dalam rutinitas dan dunia yang sama sekali asing. Dunia yang palsu. Dunia yang menipu. Dunia yang tidak ingin aku tinggali.
 Tapi hidup selalu memberikan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan.
 Yang menyadarkan aku bahwa, bahagia itu sangat sederhana.

Bahagia itu bertemu dengan seorang ibu yang menasihati aku untuk rajin berdoa. Untuk bisa makan bersamanya dan berbagi cerita tentang masa depan.
 Bahagia itu bertemu dengan tukang soto yang bisa bicara bola dua jam penuh. Yang hafal pada statistik tim di liga manapun, dan yang menanti-nantikan jualannya habis, hanya untuk bisa nobar dengan teman-temannya.
 Bahagia itu melihat anak-anak SD yang berangkulan kemudian berjalan seperti robot. Berpura-pura bahwa dunia ini tidak eksis dan hanya imajinasi mereka yang liar yang nyata. Bahagia itu melihat anak-anak menggoda tukang cat di sekolah mereka. Sekadar menjulurkan lidah, berlarian, dan menyembunyikan topi si tukang berkaus merah.
 Bahagia itu menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat yang baru. Tanpa tanda dan tanpa aling-aling. Ketika waktunya tiba, kita hanya membiarkan diri kita dibawa.
 Bahagia itu menghapus air mata yang jatuh karena mengingat hal-hal yang telah lewat.
 Bahagia itu ketika bisa ngobrol dengan mama dan papa yang jauh di ujung pulau. Sekadar bertanya kabar dan bicara tentang apa saja. Tahu, bahwa dalam dunia yang kejam, ada orang-orang yang mencintai dan peduli pada kita tanpa batas.
 Bahagia itu ketika bisa membaca dengan nyaman di kasur. Tenggelam pada huruf-huruf dan cerita yang kita tanamkan pada pikiran.
 Bahagia itu melihat bahwa hal-hal kecil di dunia punya arti yang sedemikian besar.

Kita hanya sering lupa. Bahwa bahagia itu sesederhana itu… :”)

24.04.14
 [F]

Friday, April 4, 2014

Bit Confession


I am sorry for being imperfect - as a girl. I’m sorry for not being fashionable and do not even care about my makeup and my -not-so-sexy-body, because I’d rather spend my time more on study and socialize, than to shop and mix-match outwear, put 3 layers of makeup just to make me look “natural”. For me, natural means inner beauty, the kindness, humble, patience, and dedication. Because I can not stand standing in front of my mirror more than an hour. It’s me and my flaws, and I am sorry.

I am sorry for not being there with you all the time, or keep you accompanied everywhere you go. For having my own schedule and being busy, just as you do. I want to create, inspire, and do something too. Something great, something helpful. I want to push myself to the highest limit - usually before my body stumbles and I eventually get sick. That’s the only moment I realize that I, too, need a rest once in a while. I’m sorry I can not spend my whole day with you, because I certainly need a space. I need to be in my own and do my stuffs. And I fully understand that you need some time alone, too. So I’m sorry, because some times we might be apart, but never in our heart. Being together doesn’t mean I have to drawn myself on your life or you have to drawn in my life. Being together means we have our own business yet we make time to spend some time with each other.

I am sorry for being unable to cook. No, it’s actually not “unable”, I just think that cooking can be tiring and there are so much things to do. And that’s kinda not my thing. I like something simple and not procedural. I can’t make you lasagna or the most delicious turkey you’ve ever eaten. Maybe some kind of pasta and fries, but that’s it. I’m sorry you can’t tell your co-workers that you miss my homecook. But I wish that you could tell them how you miss our-eating-together-time. I love food. It’s my second love after you. And being able to eat together with you means that I can be with 2 of the love of my life, at the same time. So instead of being in the kitchen and cooking while you’re watching the TV, I’ll be searching for new menu and restaurant in the town. I’m sorry I’m not the best cook, but I promise I’ll learn through time. But, would you wait for me?

I’m sorry for not serving you like the other girls do. Please do acknowledge that we’re equal and that there has never been any law states that a girl has to serve his man. But I do want to serve you, to show you that I love you and that your happiness is above mine. That I know you can do some of your jobs alone, but I prefer to help you with that. It is my choice and you don’t have the right to be angry if, say, I’m very tired and I forgot to clean your shoes. We are couples, and the things we want to do to each other, has to be nothing to do with obligation nor duty. Do it because you want to (or because I tell you to..HAHAHA just kidding!). I’m sorry for thinking this way. I hope you understand.

I’m sorry I don’t need to be spoiled or pampered. You don’t have to buy me roses and jewellries in special occasion. You don’t have to pick me up or drive me to anywhere I’d go. I can do it on my own. I’m sorry if it makes you a little bit unneeded, but I do need you. Not to be my driver, lifter, or anything else. But to be my partner in life. And so if I could do it by myself, I will more likely not ask for your help. But in case you feel like you want to, then I will permit you. It’s that simple. The way you treat me shows me the way you love me. You’ll figure that out ;)

I am sorry for being gross. For choosing to take a nap after rough day than to clean up my room. I’m sorry I can not pick the wet hair in bathroom floor because I have bit phobia of it. I’m sorry if sometimes I don’t take a bath for whole one day - or two. I dont have any defense, it’s just some things I can not explain. I’m sorry for having a messy room. But trust me, I know where everything is put. From bobby pins to last-month-restaurant-receipt, just ask me and I’d point out where that would be. Messy room keeps my head sane. Funny huh? There are something about scattered papers, bottles, and stuffs that make me focus. I don’t know what.

I’m sorry for not being the best girl you could get. In some parts of your life you’re gonna regret the fact that you chose me, but I bet most of the times you won’t. :”)

Friday, March 28, 2014

Tiga Pagi di Tengah Ujian


Semua bisa terjadi pukul tiga pagi.
Sebuah waktu yang mengundang perenungan.
Bagiku yang nokturnal, tiga pagi berarti klimaks.
Saat ketika semua pikiran tercampur dan teraduk tak karuan.
Saat ketika ide dan gagasan gila berloncatan keluar.
Saat ketika menitikkan air mata tanpa sadar,
atau tertawa samar,
akan dimaklumi.
Saat mengingat dengan sedikit nyeri,
pada waktu yang tidak hendak tinggal.

Tiga pagi artinya menjadi ada ketika semua orang tak ada.
Terjaga ketika semua orang terlelap.
Dan semuanya bisa terjadi pukul tiga pagi.
Seperti, kita memulai perjalanan ini. .

22.03.14
 [F]

Proud Moms


Ma, aku hari ini ketemu Ibu cantik bermukena biru, di tempat fitness-ku. Lalu dia menyapaku dahulu, menanyakan aku kuliah dimana. Lalu dia bercerita bahwa anaknya juga lulusan Parahyangan, dan sekarang sudah jadi diplomat. Aku terpekik senang. Sejenak lupa pada masa ujianku dan tertegun melihat binar di matanya ketika berbicara tentang anaknya yang begini dan begitu. Lalu dia mendoakan agar aku pun segera lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang aku mau. Aku mengangguk mantap dan berkata, “amin!’

Ma, ketika Paskah yang lalu aku bertemu seorang sosialita di gereja. Wanginya sermebak, pasti dari parfum yang harganya beberapa juta. Rambutnya disemir dan sekaligus di-curly, hpnya keluaran terbaru. Lalu dia menyapaku. Dan bercerita juga bahwa anaknya berkuliah di jurusan dan universitas yang sama denganku. Kata ibu yang ramah ini, anaknya sekarang sedang berlibur di Eropa, sebagai hadiah dari kerja kerasnya di salah satu bank internasional. Dan bahwa dia amat bangga atas segala prestasi anaknya semenjak sekolah. Aku mendengarkan dengan seksama, betapa menyenangkannya. Eropa, dia pun mimpi terbesarku. Dan ratusan juta orang yang lain.

Ma, aku harap tiga atau empat tahun lagi mama akan mengalami hal yang sama. Mama mau cerita apa? Aku harap semoga mama bisa cerita bahwa mimpiku untuk melanjutkan kuliah di Inggris sudah tercapai. Dan bahwa aku bisa kerja dan menghidupi diriku sendiri. Dan bahwa aku masih seperti gadis kecil yang mama antarkan ke gerbang sekolah bertahun-tahun lalu. Yang berubah hanya tubuh dan wajahku. Kesemuanya, semangat, mimpi, cita-cita, cinta, dan karakter, masih terukir dengan baik. Aku harap mama bisa cerita bahwa aku telah berkeliling ke negara-negara. Membuka wawasan kepada hal-hal yang baru, mendapatkan pengalaman yang terkadang sulit untuk didapat orang lain. Aku harap mama selalu berbaik hati menyapa gadis-gadis kecil yang seumuran denganku, yang masih mencari jati diri dan menentukan apa yang ingin ia lakukan dalam hidup. Aku harap mama mendorong mereka untuk menjadi sukses dan tidak tergantung pada pasangan hidup mereka. Biar binar di mata mama memotivasi mereka, seperti yang telah terjadi padaku.

Ma, aku harap mama akan menceritakan tentangku dengan rasa bangga. :’)

19.03.14
 [F]



Friday, March 14, 2014

Sore Ini


Hari ini aku menjadi kecil lagi.
Menjadi sederhana.
Melepas sepatu dan merendam kakiku dalam genangan air hujan.
Rasanya menyenangkan sekali.
Aku tidak pernah lupa.
Ketika SMA aku selalu suka melakukan ini.
Bermain di bawah hujan.
Walau ekor kudaku tepis kena tempias.
Dan sesekali aku harus berjinjit menghindari batu-batu tajam.
Dan menahan tawa ketika orang-orang yang melihat geleng-geleng kepala.
 “Ngapain atuh neng ujan-ujan…” begitu katanya.
Ibu hanya belum tahu seberapa menyenangkannya.
Berjalan menembus amuk awan.
Dan untuk sesaat merasa…
Bebas!


14.03.14
[F]