Sunday, August 9, 2015
Friday, August 7, 2015
To Be Alive
Di beberapa momen yang indah, aku selalu berkata di dalam
hati, “What a great time to be alive.”
Semuanya mudah. Berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang yang berada di belahan dunia lain kini semudah menekan layar sentuh di ponsel pintar. Menyebarkan berita atau pengumuman pernikahan kini semudah memasang foto terbaru di instagram dan jaringan sosial lainnya yang menjamur. Bingung mencari tahu cara membersihkan virus dari laptop? Tinggal meminta google mencari jawabannya untuk kita. Apapun yang ingin kita tanyakan, google bisa menjawabnya. Membeli baju dan melihat-lihat isi buku kini dapat dilakukan dari perangkat elektronik yang sama, yang mengijinkan kita untuk tak perlu mandi dan mengangkat kaki dari rumah.
Tapi di sisi yang lain, aku merasa khawatir. I am
worried.
Kini bercakap-cakap dengan orang tak bisa semudah dulu.
Kini semua orang – di stasiun, di halte, di toko, di jalan raya – semua sibuk
dengan ponselnya masing-masing. Tak ada yang menengadahkan kepala untuk melihat
dunia nyata. Semua menunggu dengan bosan, berharap tak ada yang mengajak
berbicara, semua menggerakkan jarinya dan menggulir konten media sosial. Tak ada
yang peduli. Tak ada yang ingin membuka pembicaraan.
Kini bercakap-cakap tak semudah dulu. Lima menit pertama
ia menatap kita namun lima menit kemudian ia hilang memberikan Likes di
foto-foto orang lain. Manusia di masa kini seperti dilatih untuk memiliki
konsentrasi jangka pendek. Teori yang mengatakan bahwa manusia hanya bisa
berkonsentrasi di 30 menit pertama mungkin haris direevaluasi kembali. Dengan
banyaknya tombol dan notifikasi berhamburan, mereka tak tahan harus
bercakap-cakap selama satu jam. Mereka tak tahan untuk mengabaikan segala macam
bunyi dan pendar dari layar ponsel dan iPad mereka.
Kini bercakap-cakap tak semudah dulu. Kini orang-orang
tak saling bertemu lagi. Bersalaman dan berpelukan tak lagi semengasyikkan
snapchat dan ask.fm. Orang tak lagi saling mengunjungi untuk bersilaturahmi.
Pasangan tak lagi menyempatkan diri untuk duduk bersama dan bercakap-cakap.
Mereka didominasi oleh Line, BBM, dan Whatsapp. Emotikon dan huruf, tapi, tak
akan pernah menggantikan ekspresi wajah dan sentuhan tangan yang biasa
dipertukarkan.
Aku khawatir melihat manusia tak lagi membaca buku cetak.
Dan ayah-ibu tak lagi bermain sepeda dengan anaknya, atau membawa mereka
bermain di taman hiburan. Aku khawatir tablet telah menggantikan peran
orangtua, in so many ways. Aku khawatir nantinya manusia tidak akan
berkomunikasi satu sama lain, karena semua kebutuhan mereka dapat dipenuhi oleh
satu perangkat canggih bernama teknologi. Kelas berisi 50 orang tak pernah
sesepi ini, semuanya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing sementara sang
dosen sedang menerangkan panjang lebar. Tak ada yang mau menolong korban
kecelakaan karena mereka berpikir itu adalah modus kejahatan terbaru, dan jika
mereka menolong maka mereka akan ditodong. Dunia ini, berubah menjadi lebih
baik dan lebih buruk di saat yang sama.
Dan kadang-kadang aku berkata dalam hati, “What a bad
time to be alive.”
[F]
Thursday, July 30, 2015
MR: 13 Going on 30
Hai! Hari ini mau memulai sesuatu yang telah
lama terpendam, yaitu menulis Movie Review/Recommendation. Kenapa movie? Simply
because self-proclaimed I have a pretty good taste in movies. Hahaha. Mungkin
karena hobi nonton film dan baca buku, jadi lama-lama terbiasa ngeliat alur
cerita, karakter, plot, dan sebagainya.
So, the first movie I want to review is “13
Going on 30”
Ini salah satu film favorit yang udah ditonton
berpuluh-puluh kali. To be honest, kayaknya aku udah hafal sama skenario dan
lines dari masing-masing karakternya.
Film ini keluar tahun 2004, udah cukup lama
sih emang. Ceritanya ada seorang anak perempuan namanya Jenna Rink (Jennifer
Gardner) yang lagi berulangtahun yang ke-13. Kayak anak-anak remaja lainnya,
Jenna pingin cepet jadi wanita dewasa. Pingin bisa pakai make-up, jadi cantik,
punya boobs, punya pacar ganteng, dan sebagainya. Dia bertemen baik sama cowok
gendut bernama Matty Flamhaff (Mark Ruffalo). Karena dia pingin banget jadi
populer, dia terpaksa harus hang out sama cewek-cewek populer typical American
movie (serba-pink, bitchy, blonde). Salah satunya yaitu Lucy Wyman (Judy
Greer). Tapi mereka ga pernah bisa menerima Jenna dan malah nyuruh Jenna untuk
ngerjain PR mereka. Lucy dkk. bahkan ngegodain Jenna sama Matt. Singkatnya
karena Jenna desperate, dia akhirnya frustasi dan ngamuk-ngamuk di balik
lemari. Waktu itulah ada wishing dust yang bisa mengabulkan permintaan, yang
akhirnya bener-bener ngebawa Jenna ke masa depan, waktu dia umur 30 tahun.
Si Jenna seneng setengah mati karena turns out
semua yang diinginin ketika dia masih muda tercapai. But it comes at a cost.
Thirty-year old Jenna doesn’t speak to her parents anymore, doesn’t hang out
with Matt anymore. She turns into someone with bad attitude. Tapi Jenna pingin
berubah, dan pingin berteman lagi sama Matt, mungkin malah lebih dari teman.
Sampai dia akhirnya sadar kalau waktu ga bisa seenaknya diputerbalik.
What I love about this movie: it’s honest, and
fun, and we all can relate to this story. Sebagai cerita drama komedi, banyak
adegan yang bikin kita ketawa liat tingkah Jenna. Dia tiba-tiba dansa ala
Michael Jackson, atau makan permen di sela-sela rapat. Akting Jennifer Gardner
keliatan alami, gak terkesan dibuat-buat. Mark Ruffalo juga sama, aktingnya
natural, cool, dan ga terlalu ekspresif.
![]() |
| Dansa Thriller ala Michael Jackson |
Character-wise, orang-orang yang ada di film ini bisa kita jumpai di kehidupan sehar-hari.
Anak kecil yang ga sabar jadi dewasa, kelompok populer dan kelompok nerd, rekan
kerja yang bitchy, bos yang gay, dll. Gak ada perbedaan kutub protagonis dan
antagonis yang terlalu lebar. Kalau biasanya di film kita bisa benci banget
sama karakter antagonis, disini enggak. Karena semuanya logis, gak ada karakter
yang tanpa motivasi apapun terus tiba-tiba jadi super menyebalkan.
Plot-wise, I’m
gonna give 7.5 out of ten. Ketika liat film ini, kita kira-kira udah dapet
gambaran ceritanya akan berjalan kayak gimana. Tapi ada twist menarik di bagian
ending yang bikin jadi less predictable. Ada adegan-adegan yang bisa dipotong,
kayak misalnya ketika Jenna nyanyi-nyanyi sama anak kecil. Naik-turunnya
terjaga, walaupun ga bisa dibilang ada faktor “Wow”nya. Tapi ceritanya sangat
nostalgic dan bisa bikin kita senyum-senyum sendiri inget waktu jaman jatuh
cinta SMA.
Message-wise, well aku percaya kita bisa selalu belajar dari sebuah film. Semua cerita
ada pesan moralnya kan? Dan kalau ga ada, then it’s a pure useless
entertainment. Ada beberapa hidden message yang bisa didapet setelah nonton
film ini sih. Pertama, it is never too late to become a better person. Jenna
membuktikan dia bisa berubah dari karakter dia yang dulu. Dua, sometimes what
we dream of is not really what we need. Cowok terganteng di angkatan Jenna aja
akhirnya jadi supir taksi di New York. Jenna udah dapetin semua yang dia mau
sejak kecil, tapi ternyata itu ga sepadan kalau dia harus kehilangan orangtua
atau sahabat baik dia. Tiga, be careful what you wish for!
So overall, it was a fun and romantic movies! An
easy watch. Kalau belum pernah nonton, go ahead rent the DVD, I bet you’ll like
it!
Director:
Gary Winick
Writers:
Josh Goldsmith, Cathy Yuspa
Stars:
Jennifer Garner, Mark Ruffalo, Judy Greer
PS:
Hey, if you want to read my review about certain movies, please put it in the
comment box and I’ll review it ;)
[F]
Thursday, July 23, 2015
The Future of Society
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan ngantri berjam-jam untuk mencoba martabak
nutella. Karena kini ada bapak-bapak Gojek dan Yesbos yang siap membungkus
pesanan kita dan mengantarnya langsung ke depan rumah.
Suatu saat
kita tak akan lagi merasakan susahnya belajar menyetir mobil. Karena Google
sudah menemukan cara untuk membuat mobil yang tak perlu pengemudi, auto-driver.
Kita hanya perlu duduk diam menunggu sampai tujuan.
Suatu saat
kita tak akan lagi melihat konser sambil berteriak-teriak kegirangan melihat
penampilan idola. Karena kini semua orang menggunakan tongkat narsis, tablet
perekam, dan drones kamera yang melayang kemana-mana.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan gugupnya membuka pembicaraan dengan orang
yang disukai. Atau menunggu-nunggu untuk bertemu setelah sekian lama. Karena
kini semua media sosial memperbolehkan semua itu terjadi, setiap hari, gratis.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan rumitnya menghapal jalan dan peta. Suatu saat
kita tak akan lagi tersesat di tempat yang tak pernah kita kunjungi. Karena
kini ada google maps dan waze, yang lebih hafal jalan dibandingkan peta kusut
yang mulai robek di bagian pinggir karena tak terpakai.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan pentingnya mengingat sesuatu. Mengingat tahun
berapa Perang Dunia berakhir dan siapa nama istri Jokowi. Karena kini ada
Google yang hanya sejarak sentuhan jari, yang tanpa basa-basi menjawab hal-hal
kecil yang tak pernah kita ingat.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan asyiknya melihat album foto bersama-sama.
Karena kini ada Instagram, periskop, dan vsco, semua diumbar, semua adalah
milik umum. Foto berbikini, foto dengan pacar, foto dengan pak presiden, semua
orang bisa melihatnya.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan bagaimana dengan sungkan minta difotokan oleh
orang tak dikenal. Karena kini ada Gopro, yang langsung terhubung dengan
telepon pintar. Kita tak butuh bantuan orang lain, bukan?
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan gilanya menceburkan teman ke kolam renang.
Karena kini di kantongnya ada kamera poket, ponsel keluaran terbaru, tablet
berukuran seperti tivi, jam tangan digital yang tersambung ke ponsel, dan kabel
pengecas yang dibawa kemana-mana. Karena semuanya lebih penting dari kenangan
yang kita ingat hari itu, jika kita menceburkan dia ke kolam.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan capainya menulis dengan tangan. Karena kini
ada voice command, ada evernote, dan ada laptop. Semuanya tak butuh cekeran
ayam dengan pulpen yang sering luntur. Karena kini semuanya serba tertulis
dengan huruf cetak macam arial dan times new roman. Dan tak ada ruang untuk
tulisan tegak bersambung yang diajarkan sedari TK.
Suatu
saat kita tak akan lagi mendengar alunan asli instrumen piano, gitar, kecapi,
gendang, hingga violin. Karena kini ada musik elektronik yang bisa
menggabungkan semuanya, yang tinggal tekan dan pencet, tak perlu kursus
berlama-lama dan tak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk
mempelajarinya.
Suatu
saat kita tak akan lagi bertemu dengan ibu-ibu penjual rokok di tepi jalan,
atau bapak-bapak penjual cendol di depan pasar. Karena kini semuanya tergantikan
dengan vending machine.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan hangatnya dijamah oleh resepsionis atau
pramugari cantik nan santun. Karena kini hotel-hotel menggunakan layar canggih
dan robot ramah yang tak perlu dibayar tinggi. Karena kini manusia tak begitu
berharga lagi.
Suatu
saat kita tak akan lagi merasakan susahnya mengulek sambel hingga menangis,
atau berjam-jam membuat kuah kari. Karena kini ada bumbu instan yang hanya
perlu dituang, ada bumbu bubuk yang membuat semua makanan terasa enak, hemat
berjam-jam.
Suatu
saat mungkin.....
Manusia
sadar bahwa waktu tak bisa diulang kembali.
Suatu
saat mungkin..
Manusia
bertanya-tanya,
“Lalu
aku kerja apa?”
[F]
Friday, July 17, 2015
Waktu
Waktu tak membohongi
Satu insan pun yang berusaha mengingkari
Dengan kamu disana dan aku disini
Jauh memang, tapi tak pernah sejauh ini
Satu insan pun yang berusaha mengingkari
Dengan kamu disana dan aku disini
Jauh memang, tapi tak pernah sejauh ini
Pada jam dua pagi, angin malam menyapa
Membuat aku menggigil
Tapi menggigil bahagia
Kamu tahu betapa cintanya aku pada kedinginan
Jauh lebih cinta pada bulan
Dibanding matahari
Tawa membuat semuanya hangat
Menghembuskan tambahan oksigen
Menghela napas panjang
Ah, bahagia begitu sederhana
Sesederhana lengkung bernama senyum
Bersama orang-orang tersayang
Sesederhana cekikik nyaring
Pada lelucon garing
Tradisi yang sungguh familiar
Dan di saat yang sama, membuat rindu berulang-ulang
Rasanya lengkap
Tapi kamu membuatnya kurang
Kamu pernah ada, kamu pernah menyempurnakan
Membuat aku menggigil
Tapi menggigil bahagia
Kamu tahu betapa cintanya aku pada kedinginan
Jauh lebih cinta pada bulan
Dibanding matahari
Tawa membuat semuanya hangat
Menghembuskan tambahan oksigen
Menghela napas panjang
Ah, bahagia begitu sederhana
Sesederhana lengkung bernama senyum
Bersama orang-orang tersayang
Sesederhana cekikik nyaring
Pada lelucon garing
Tradisi yang sungguh familiar
Dan di saat yang sama, membuat rindu berulang-ulang
Rasanya lengkap
Tapi kamu membuatnya kurang
Kamu pernah ada, kamu pernah menyempurnakan
[f]
Takut Kalah
Baru-baru
ini aku mendaftarkan diri untuk mengikuti program summer university di India
selama sebulan. Aku mengerahkan segala kemampuan dan ketika sudah mengumpulkan
aplikasi, aku menyadari seberapa inginnya aku mendapatkan kesempatan ini. Bukan
hanya sekedar iseng-seng berhadiah. Aku berdoa, dan selalu berharap semoga
aplikasiku lolos. Dan setelah penantian selama 2 minggu, barusan aku
mendapatkan email bahwa aku tidak lolos. *put a teary eyes emoticon here*
Bersamaan dengan itu juga aku gagal mengikuti conference di South Korea. Dua
penolakan di bulan yang sama. Aku kecewa. Tentu saja, siapa sih yang tidak mau
dibayari full di negeri asyik macam India dan Korea?
Lalu
kemudian aku mendengar diriku sendiri berkata, “Ah, kamu cupu Len. Baru ditolak
beberapa kali aja udah minder. Udah merasa self-conscious dan ga pede. Berarti
kamu belum siap kalah.”
Siap
kalah. Kadang kita menganggap remeh kualitas itu. Aku
pernah baca buku yang kira-kira berjudul, kenapa mahasiswa yang mendapat nilai
A bekerja untuk mahasiswa yang mendapat nilai C. Kira-kira penjelasannya
begini: mahasiswa yang mendapat nilai A biasanya tidak bekerja keras untuk
mendapatkan nilai itu. Mereka bisa menaklukkan pelajaran dengan mudah, belajar
sehari sebelumnya pun bisa mendapat A. Tapi mahasiswa yang biasanya mendapat
nilai C selalu mengeluarkan kekuatan lebih untuk belajar. Mereka menyicil dari
jauh-jauh hari, belajar bersama, mencatat, dsb. Ketika keduanya lulus di dunia
kerja, itu jugalah yang terjadi. Mahasiswa yang terbiasa mendapat kekecewaan
dengan nilai C akan terus menerus memperbaiki performa dan kualitas kerjanya.
Itu yang menjelaskan mengapa kita semua harus siap kalah dalam segala
hal yang kita kerjakan.
Sebagai
orang yang berkecukupan, aku jarang merasakan kekalahan. Jujur, itu sesuatu
yang aku syukuri. Aku tidak pernah di-bully, punya teman-teman yang care
denganku, punya keluarga yang harmonis, dan beberapa kali hidup membukakan
pintu-pintu yang tepat untuk memberikan aku pengalaman yang luar biasa langka. Jadi
– mungkin – aku tidak biasa merasakan yang namanya kalah. Itulah mengapa ketika
aplikasiku ditolak oleh 2 institusi yang berbeda, aku langsung ciut. Langsung
minder dan langsung berpikir-pikir ulang untuk mendaftar acara serupa.
Bodoh
memang. We cannot win all the time, right? Ketika kita mendaftar di lomba
catur, tentu kita tahu bahwa kesempatan untuk kalah sama besarnya dengan
kesempatan untuk menang. Kita tahu bahwa kita mendaftarkan diri untuk kalah.
Bahwa jika dihitung secara matematis, maka probabilitas untuk kalah tentu
lebih besar dibandingkan menang. Lihat saja, dari 1000 atlet olimpiade, hanya
50 yang berhak menjadi juara. Tapi kadang kita lupa bahwa semua hal ada sisi kalahnya,
bahkan ketika kita mencintai seseorang. Membuat kue itu bisa gagal. Mendaftar
ke lomba itu bisa gugur. Menjalin pernikahan itu bisa cerai. Menyayangi
seseorang juga bisa ditolak. Untuk setiap keputusan, kita tahu bahwa peluang
untuk kalah lebih besar dari peluang untuk menang.
Tapi,
apakah kita cukup berani untuk mencoba?
Remember
this: sometimes you win, sometimes you learn. Jadi, setiap mau melakukan sesuatu, pikirkan dulu, udah siap belum kalau
yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan? Jangan terburu-buru membayangkan,
ah pasti menang hadiah uang, ah pasti berhasil, ah pasti lolos, ah pasti keren
kalo jadi juara, dll. Dan kalau dipaksa harus kalah, mungkin itu tandanya kita
harus belajar lebih banyak dan berusaha lebih keras. Never a mistake,
always a lesson. Semangat ya, untuk kesempatan-kesempatan emas yang
menunggu untuk dicoba!
[f]
Tuesday, July 7, 2015
Us with Our Battles
Kita semua sedang berjuang kok.
Benar, kita punya perang yang harus kita hadapi sendiri-sendiri.
Ada yang berjuang mencari nasi untuk istri dan anaknya.
Ada yang berjuang agar upah hari ini cukup untuk makan satu kali.
Ada yang berjuang supaya dagangannya dibeli.
Ada yang berjuang menahan lapar dan haus.
Ada yang berjuang supaya tak menangis ditinggal pergi.
Ada yang berjuang mempertahankan bisnis yang di ambang bangkrut.
Ada yang berjuang mengalahkan penyakit mematikan.
Ada yang berjuang menyetir bemo dan angkot di terik panas.
Ada yang berjuang menjadi ojek payung dan rela basah demi uang.
Ada yang berjuang memerangi hati nurani di sangkar prostitusi.
Ada yang berjuang bertahan hidup ketika yang dikasihi mati.
Ada yang berjuang menabung agar anaknya punya tas baru.
Ada yang berjuang ngamen di jalan agar bisa makan.
Ada yang berjuang menjadi juara satu di kelas.
Ada yang berjuang memuntahkan makanan agar tetap kurus.
Ada yang berjuang merawat ibu yang sakit keras.
Ada yang berjuang mengumpulkan koin gratis di Line.
Ada yang berjuang mencari kebahagiaan.
Ada yang berjuang untuk bernapas sehari lagi.
Ada yang berjuang di sakratul maut setelah ditabrak lari.
Ada yang berjuang mencari merek kosmetik terbaru hingga luar negeri.
Ada yang berjuang menciptakan lagu.
Ada yang berjuang untuk keluar dari kota kelahiran.
Ada yang berjuang untuk mendapat beasiswa S-2.
Ada yang berjuang melawan diri sendiri.
Ada yang berjuang, sendirian.
Kita semua sedang dalam perjuangan. Perjuangan kita masing-masing yang tak kalah hebat. Jadi tolonglah, jangan memamerkan penderitaanmu di depan khalayak ramai. Tak usah ganti status, tak usah bilang ke semua orang bahwa pacarmu selingkuh. Tak usah gores-gores diri, tak usah mencoba bunuh diri. Tak usah sombong ke dunia bahwa kamu orang paling menderita. KIta sudah punya penderitaan kita sendiri-sendiri.
Bagaimana kalau, sebagai gantinya, kita saling menyemangati?
Bagaimana jika kamu memaafkan angkot yang berhenti tiba-tiba.
Atau bis yang lewat cepat memercikkan air ke jinsmu yang harganya sejuta.
Atau ibu-ibu yang melayanimu dengan cemberut tanpa senyum.
Atau tukang ojek yang minta bayaran sedikit lebih banyak.
Bagaimana kalau, sebagai gantinya, kita saling mengapresiasi?
Bahwa setiap orang sedang berjuang mendapatkan sesuatu yang cenderung tak kita pahami.
Bagaimana kalian bisa paham bahwa sepatu bekas bisa membuat anak kecil bersorak-sorak?
Bagaimana kalian bisa paham bahwa tukang angkot ingin cepat bertemu dan berbuka puasa dengan istrinya?
Tentu saja tidak bisa, karena kita tidak pernah mengalaminya.
But just because we never feel it, doesn’t mean other people can’t feel it too.
Bagaimana kalau,..
Kita tersenyum lebih banyak.
Dan mengeluh lebih sedikit.
Percayalah, tak hanya kamu yang sedang berjuang.
[f]
Subscribe to:
Posts (Atom)


